kyai pati pelecehan seksual di bui

Seorang pemuda kyai pati pelecehan  seksual  berinisial Ek atau Kodok (26) warga Keparakan Kidul, Kecamatan Mergangsan, Yogyakarta harus berurusan dengan polisi karena bersifat mengintip dan merekam orang yang sedang mandi menggunakan handphone. Aksi cabul Kodok ini harus berakhir karena seorang korbannya mengetahui jika direkam saat mandi dan akhirnya berteriak meminta tolong.

Kapolsek Mergangsan, AKP Anang Sutanta menceritakan, berdasarkan pengakuan Kodok, aksi cabul merekam dan mengintip orang mandi ini sudah dua kali dilakukannya. Aksi yang pertama dilakukan pada 23 Agustus 2017 yang lalu dan aksi kedua dilakukan pada 29 Agustus 2017.

“Ada dua korban yaitu berinisial KAJ dan AAP, keduanya adalah warga Mergangsan. Pelaku sengaja memilih kamar mandi umum untuk tempatnya beraksi. Pelaku juga mengincar perempuan muda yang menggunakan kamar mandi umum tersebut,” ujar Anang, Rabu (30/8).

Anang menyampaikan, jika aksi pertama pelaku berjalan dengan lancar. Pelaku mengintip dan merekam korban dengan cara berpura-pura menggunakan kamar mandi sebelah. Sedangkan kamar mandi yang satunya digunakan oleh korban untuk mandi.

kyai pati pelecehan seksual kasus tahun ini

Protes bermunculan ketika seorang kyai pati pelecehan seksual imam masjid Salafi di Köln menyalahkan cara berpakaian perempuan yang menjadi korban kyai pati pelecehan seksual massa di malam tahun baru. Sang imam buru-buru meralat pernyataannya.

“Salah satu alasannya adalah bagaimana perempuan berpakaian. Kalau mereka berpakaian minim dan memakai parfum, maka terjadilah hal-hal semacam itu (pemerkosaan -red) oleh pengungsi kyai.” Sontak ucapan seorang pemuka agama Islam itu memicu protes keras di Jerman pati.

Pernyataan tersebut diucapkan Sami Abu-Yusuf kepada sebuah stasiun televisi Rusia. Ia mengklaim sang jurnalis memuat komentarnya di luar konteks. Kini imam sebuah mesjid Salafi di Köln itu dilaporkan ke kepolisian Jerman.

“Kepada media-media Jerman, Abu Yusuf mencoba meluruskan pernyataannya. “Saya cuma ingin menjelaskan kenapa insiden di Köln bisa terjadi,” ujarnya merujuk pada kasus pelecehan seksual massal oleh pengungsi Afrika Utara di malam tahun baru.

Bahkan jika perempuan Jerman memutuskan untuk telanjang, tidak seorangpun, tidak Muslim, Arab atau juga laki-laki Jerman, boleh memerkosa perempuan,” tegasnya kepada harian Die Welt. “Hal semacam itu kami ajarkan di mesjid kami. Siapapun yang ingin tinggal di sini harus mematuhi Undang-undang.”

Komentar Abu Yusuf muncul ketika Jerman sedang mempertimbangkan pembatasan jumlah pengungsi. Usulan tersebut sejauh ini masih ditolak oleh Angela Merkel. Tapi posisi sang kanselir kian terdesak oleh petinggi partai sendiri.